“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)
Lisan
(lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk
kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah
dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.
Dua
orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.
Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa
dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling
menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah
seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah
karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya
seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah
yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka
Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya
seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar
(baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang
lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )
1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak
ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu
orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam
akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari
penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang
tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
6. Abu Hatim : “Lisan
orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin
berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat
(maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada
(maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh),
hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh
lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap)
mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku
mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan
yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama
dipenjarakan dari pada lisan.”
8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada
satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak
berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu
wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang
tidak berfaidah bagiku.”
















